Wakafmulia.org

Gaza Tanpa Menara: Penghancuran Masjid-Masjid Wakaf Bersejarah Setelah Dua Tahun Genosida

Selama dua tahun genosida yang intens di Gaza, serangan udara dan tembakan artileri tidak hanya mengenai kawasan pemukiman dan infrastruktur sipil. Sasaran juga meluas ke landmark keagamaan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas dan ingatan historis wilayah tersebut.

Situs-situs ini — terutama masjid-masjid yang dikelola sebagai wakaf — mewakili lapisan sejarah berabad-abad, mulai dari akar pra-Islam hingga masa kejayaan Mamluk dan Utsmaniyah. Menurut data Kantor Media Pemerintah Gaza yang dikutip laporan Anadolu Ajansi, dari sekitar 1.244 masjid di Jalur Gaza, lebih dari 835 hancur total dan lebih dari 180 rusak sebagian.

Dampak Keseluruhan terhadap Aset Wakaf

Aset wakaf di Gaza bukan sekadar bangunan, melainkan pusat ibadah, berkumpulnya umat, dan pelestarian sejarah selama generasi. Kehancuran ini telah meninggalkan Gaza “tanpa mimenar” di banyak kawasan. Simbol fisik warisan Islam dan budaya yang mendalam pun lenyap.

Serangan ini menyentuh baik masjid modern maupun yang kuno. Tempat-tempat suci untuk shalat dan renungan kini berubah menjadi puing-puing. Ancaman ini mengganggu warisan keagamaan dan historis wilayah tersebut.

Sebagai platform yang fokus pada wakaf di Indonesia, Wakaf Mulia (wakafmulia.org) percaya bahwa memahami nilai aset wakaf seperti ini mengingatkan kita betapa pentingnya sedekah jariyah. Pahala yang mengalir terus menerus, bahkan setelah kita tiada.

Sorotan Masjid-Masjid Wakaf Bersejarah Utama

Berikut adalah kisah singkat beberapa masjid wakaf paling ikonik yang menjadi korban, sebagaimana dirangkum langsung dari laporan Anadolu Ajansi.

Masjid Omari Besar (Al-Jami’ al-Omari al-Kabir) Masjid terbesar dan tertua di Kota Gaza ini terletak di jantung Kota Tua dekat pasar lama. Luasnya mencapai 4.100 m² dengan halaman seluas 1.190 m² dan 38 pilar marmer indah yang menambah kemegahan arsitekturnya. Lokasi ini pernah berubah dari kuil kuno menjadi gereja Bizantium, lalu masjid setelah penaklukan Islam.

Sepanjang sejarahnya, masjid ini pernah hancur karena gempa bumi, serangan Salibis, dan Perang Dunia I, lalu dibangun kembali pada masa Mamluk, Utsmaniyah, serta direnovasi tahun 1925. Kini ia hanya menyisakan puing. Seorang jamaah tetap masjid ini mengisahkan kepada Anadolu Ajansi:

“Masjid ini mengalami serangan manusia paling kejam. Penghancurannya adalah tragedi bagi kami, karena ia adalah bagian dari Gaza dan Palestina.”

مسجد السيد هاشم – غزة – GIG

Masjid Sayyid Hasyim (Masjid al-Sayyid Hasyim) Terletak di kawasan Daraj, timur Kota Gaza. Masjid ini diyakini menyimpan makam Hasyim bin Abd Manaf, kakek buyut Nabi Muhammad ﷺ, sehingga Kota Gaza pun dikenal sebagai “Gaza Hasyim”. Kini masjid ini mengalami kerusakan berat akibat serangan udara.

شبكة راية الإعلامية - مسجد كاتب ولاية

Masjid Katib Wilayah (Masjid Katib Wilaya) Masjid arkeologis penting ini berbagi dinding dengan Gereja Santo Porfirius. Dibangun pada masa pemerintahan ketiga Sultan Mamluk al-Nasir Muhammad bin Qalawun (1309–1341 M), luasnya sekitar 377 m². Ia mengalami kerusakan parah akibat tembakan artileri.

تدمير مسجد ابن عثمان في الشجاعية ثاني أكبر المساجد التاريخية بغزة

Masjid Ibn Utsman (Masjid Ibn Uthman) Masjid bersejarah terbesar kedua di Gaza setelah Masjid Omari, luasnya sekitar 2.000 m². Berlokasi di kawasan Syuja’iyyah dekat pasar lama. Merupakan contoh terbaik arsitektur Mamluk dengan ornamen khas. Didirikan oleh Ahmad bin Utsman (wafat 1402 M) yang dikenal saleh. Di serambi baratnya terdapat makam Emir Sayfuddin Yalkhuja, gubernur Gaza (wafat 1446 M). Masjid ini mengalami kerusakan atau kehancuran yang luas.

مساجد غزة التاريخية.. 1400 عام من الصلاة - إطار

Masjid Ali bin Marwan (Masjid Ali ibn Marwan) Terletak di kawasan Tuffah, di luar tembok timur Kota Tua. Dibangun tahun 1371 M pada masa Mamluk, luasnya sekitar 320 m². Dinamai sesuai Syekh Ali bin Marwan yang saleh; makamnya berada di bawah kubah. Bersebelahan dengan pemakaman bersejarah yang penuh prasasti penting. Meski pernah direnovasi berkali-kali, masjid ini tidak luput dari serangan.

مسجد الظفري دمري | توثيق استهداف الثقافة في قطاع غزة

Masjid Zofor Damri (Masjid al-Zofor Damri) Berada di pinggir timur Kota Tua, kawasan Syuja’iyyah. Luasnya 600 m² dengan pintu masuk berbentuk tapal kuda yang indah. Didirikan oleh Syihabuddin al-Zofor Damri tahun 1361 M (tertulis pada prasasti batu pasir). Masjid ini hancur total.

جامع المحكمة البردبكية

Masjid al-Mahkamah (Jami’ al-Mahkamah / Bardabakiyah) Terletak di Syuja’iyyah lama. Awalnya dibangun sebagai madrasah tahun 1455 M oleh Emir Bardabak al-Dawadar pada masa Sultan Mamluk Abu al-Nasr Inal. Kemudian digunakan sebagai pengadilan syariah pada masa Utsmaniyah. Luasnya 546 m² dengan halaman terbuka. Masjid bersejarah ini hancur dalam konflik saat ini.

مشهد من بلدي | مسجد الست رقية - غزة - Ehna.TV

Masjid al-Sitt Ruqayyah (Masjid al-Sitt Ruqayya) Terletak di timur Kota Gaza, kawasan Syuja’iyyah. Hanya seluas 174 m² dengan ruang iwan dan mihrab. Dinamai sesuai seorang perempuan yang dikaitkan dengan istri gubernur Utsmaniyah atau Ruqayyah binti Ahmad. Struktur dan mihrabnya telah hancur.

الاحتلال يستهدف تاريخ غزة ويدمر مساجدها وكنائسها القديمة :: اخبار نبض البلد ::

Masjid Syekh Utsman Qasqar (Masjid al-Shaykh Uthman Qashqar) Salah satu masjid arkeologis tertua di Gaza, dibangun tahun 1223 M, luasnya hanya 70 m². Dinamai Syekh Utsman Qasqar (diduga keturunan non-Arab). Di pintunya terdapat prasasti marmer bertahun pendirian. Meski sangat kuno, masjid ini tidak selamat dari kehancuran.

شاهد: تدمير عشرات المساجد في غزة بشكل كلي او جزئي جراء القصف الإسرائيلي | يورونيوز

Masjid Besar Khan Yunis Masjid terbesar di Khan Yunis, selatan Gaza. Dibangun tahun 1928 M dan diperluas beserta mimenarnya tahun 1954 M melalui gotong royong warga. Luasnya sekitar 3.300 m², termasuk ruang shalat tertutup seluas 900 m² dan halaman luar. Masjid ini hancur akibat serangan.

Konteks Lebih Luas dan Dimensi Kemanusiaan

Masjid-masjid ini bukan sekadar bangunan biasa. Mereka adalah aset wakaf yang hidup: tempat ibadah harian, pusat komunitas, dan penjaga sejarah berlapis Gaza — dari kemegahan Mamluk hingga administrasi Utsmaniyah.

Kehancuran ini menunjukkan betapa rapuhnya warisan fisik, sekaligus mengingatkan kita pada kekuatan wakaf sebagai sedekah jariyah. Pahala yang terus mengalir meski bangunannya telah tiada, karena ilmu, kenangan, dan amal kebaikannya tetap hidup di hati umat.

Banyak dari situs-situs ini telah bertahan dari gempa bumi, perang, dan bencana alam selama berabad-abad. Kini mereka menjadi puing yang meredupkan lanskap fisik dan spiritual Gaza.

Kesimpulan

Setelah dua tahun, skala kerusakan aset wakaf di Gaza sungguh luar biasa. Ratusan masjid bersejarah — simbol identitas dan kedalaman sejarah Islam di wilayah tersebut — telah hancur atau rusak parah. Langit Gaza kini tanpa mimenar yang dulu menjadi penanda waktu shalat dan kebanggaan umat.

Kehancuran ini menghapus jejak nyata masa lalu, meninggalkan komunitas yang meratapi hilangnya ruang shalat yang familiar. Namun ingatan historis tetap abadi.

Di Wakaf Mulia (wakafmulia.org), kami terus mengajak umat untuk merenungkan: betapa berharganya wakaf sebagai amal jariyah yang melestarikan warisan Islam. Semoga kesadaran ini menguatkan tekad kita menjaga dan memperbanyak wakaf di mana pun, agar pahala mengalir terus hingga akhirat.

Artikel ini disusun berdasarkan laporan Anadolu Ajansi oleh Mohamed Majed (8–9 Oktober 2025). Semua fakta diambil langsung dari sumber tersebut.