Pernahkah Anda melihat siluet cakrawala Yerusalem? Pandangan Anda pasti akan langsung tertuju pada sebuah kubah emas yang megah, berkilau di bawah sinar matahari Palestina. Itulah Qubbat al-Sakhrah atau Dome of the Rock. Bagi umat Islam, bangunan ini bukan sekadar arsitektur indah; ia adalah simbol identitas, saksi sejarah para nabi, dan mahkota dari kompleks Masjid Al-Aqsa yang diberkati.
Sebagai bagian dari komitmen Wakaf Mulia Institute untuk mengedukasi umat tentang pentingnya menjaga wakaf umat Islam, artikel ini akan membawa Anda menyelami sejarah panjang, kesucian, hingga perjuangan yang menyelimuti “Permata Islam” ini. Memahami sejarahnya adalah langkah awal untuk menumbuhkan semangat wakaf dan kepedulian terhadap Baitul Maqdis.
Pendahuluan: Jantung Kota Yerusalem
Simbol Identitas Global
Dome of the Rock telah menjadi ikon global bagi Yerusalem dan kompleks Masjid Al-Aqsa. Keberadaannya mendominasi lanskap kota tua, memberikan rasa tenang dan keagungan bagi siapa pun yang memandangnya. Ia adalah wajah dari keteguhan umat Islam di tanah Palestina.
Jangkar Spiritual: Peristiwa Isra’ dan Mi’raj
Landasan teologis utama kesucian tempat ini terpahat dalam Al-Qur’an, Surah Al-Isra ayat 1:
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami…”
Di atas batu (Sakhrah) yang kini dilindungi oleh kubah emas inilah, Nabi Muhammad ﷺ diangkat menuju langit ketujuh dalam peristiwa Mi’raj. Inilah titik pertemuan antara bumi dan langit, menjadikannya salah satu tempat paling suci di dunia Islam setelah Makkah dan Madinah.
Keajaiban Arsitektur yang Abadi
Didirikan lebih dari 1.300 tahun yang lalu, Dome of the Rock tetap teguh berdiri sebagai mahakarya arsitektur Islam tertua yang masih mempertahankan fungsi dan bentuk aslinya. Keindahannya telah memukau para penjelajah, raja, hingga penjajah selama berabad-abad.

2. “Qubbat al-Zaman”: Akar Kuno dan Warisan Kenabian
Jauh sebelum kubah emas dibangun, lokasi ini sudah memiliki sejarah kesucian yang sangat tua, bahkan sejak zaman nabi-nabi terdahulu.
Batu Pondasi (Al-Sakhrah)
Riwayat sejarah menyebutkan bahwa batu suci ini telah menjadi kiblat bagi umat Nabi Musa AS. Dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Kathir mencatat bahwa Bani Israil diperintahkan untuk menjadikan batu ini sebagai arah salat mereka sebelum akhirnya kiblat berpindah ke Ka’bah di Makkah.
Koneksi dengan Para Nabi
Beberapa narasi sejarah dan tradisi lisan menyebutkan:
-
Nabi Adam AS: Diyakini sebagai tempat turunnya Adam AS ke bumi.
-
Nabi Ibrahim AS: Dikaitkan dengan lokasi di mana Ibrahim AS menunjukkan ketaatannya kepada Allah SWT terkait perintah penyembelihan putranya (meskipun dalam tradisi Islam lebih kuat merujuk pada Mina, narasi sejarah Palestina tetap mencatat keberkahan Ibrahim di sini).
-
Nabi Daud dan Sulaiman AS: Lokasi pembangunan bait suci untuk menyembah Allah pada masa silam.
Tradisi “Kubah Zaman”
Ibnu Kathir menjelaskan bahwa pada masa pengembaraan Bani Israil di padang pasir (Tih), mereka memiliki “Kubah Zaman”—sebuah struktur dari kayu dan kulit yang dihiasi emas dan perak sebagai tempat ibadah portabel. Ketika mereka memasuki Baitul Maqdis di bawah kepemimpinan Yushua bin Nun, tradisi penghormatan terhadap lokasi batu ini terus berlanjut hingga masa Rasulullah ﷺ.
3. Mahakarya Umayyah: Arsitektur dan Ambisi
Struktur megah yang kita lihat hari ini adalah warisan dari Kekhalifahan Umayyah. Ini adalah pernyataan politik dan religius bahwa Islam telah menjadi peradaban besar dunia.
Visi Khalifah Abdul Malik bin Marwan
Pembangunan dimulai pada tahun 66 Hijriah (685 M) dan selesai pada 72 Hijriah (691 M). Khalifah Abdul Malik bin Marwan ingin membangun sebuah monumen yang dapat melindungi umat Islam dari panas dan dingin saat beribadah, sekaligus menunjukkan kemuliaan Islam di tengah dominasi arsitektur gereja-gereja besar di wilayah Syam saat itu.
Kecerdasan Rekayasa dan Seni
Khalifah menunjuk dua arsitek ulung: Rajaa bin Haywah (seorang ulama dan ahli kaligrafi) serta Yazid bin Salam. Mereka diberikan sumber daya yang tak terbatas. Konon, biaya pembangunannya setara dengan pendapatan pajak dari Mesir selama tujuh tahun!
Tabel: Detail Arsitektur Dome of the Rock
| Fitur | Deskripsi |
| Bentuk Struktur | Oktagonal (Segi Delapan) yang melambangkan keseimbangan. |
| Diameter Kubah | Sekitar 20 meter, berdiri di atas 4 pilar utama dan 12 kolom. |
| Interior | Dihiasi mosaik kaca yang rumit dan kaligrafi ayat Al-Qur’an (termasuk Surah Maryam). |
| Eksterior | Awalnya mosaik, kemudian diganti dengan ubin keramik biru yang ikonik pada masa Ottoman. |
Lebih dari Sekadar Politik
Meskipun beberapa sejarawan menyebutkan pembangunan ini untuk menandingi Ibnu al-Zubayr di Makkah, motif utamanya tetaplah religius: memuliakan tempat Mi’raj Nabi ﷺ dan menyediakan ruang ibadah yang layak bagi umat Islam di tanah yang diberkati.
4. Warisan Pemeliharaan: Kubah sebagai Wakaf Abadi
Sepanjang sejarah, Dome of the Rock tetap tegak berkat tradisi wakaf dan kepedulian para penguasa Muslim. Pemeliharaan bangunan suci ini adalah bentuk nyata dari sedekah jariyah para pemimpin Islam terdahulu.
Restorasi Abbasiyah dan Fatimiyah
Khalifah Al-Ma’mun (Abbasiyah) dan Al-Zahir (Fatimiyah) melakukan perbaikan besar-besaran setelah bangunan ini terdampak gempa bumi dan cuaca. Mereka memastikan bahwa “Mahkota Yerusalem” ini tidak pernah kehilangan cahayanya.
Masa Kelam Tentara Salib
Pada tahun 1099 M, ketika Yerusalem jatuh ke tangan Tentara Salib, Dome of the Rock diubah menjadi gereja bernama Templum Domini. Salib dipasang di puncaknya, dan bagian dari batu suci itu dipotong-potong untuk dijual di Eropa. Namun, masa gelap ini berakhir ketika pahlawan Islam, Salahuddin Ayyubi, membebaskan Yerusalem. Beliau segera membersihkan kubah dari simbol-simbol non-Islam, menutupinya kembali dengan emas, dan mengembalikan fungsinya sebagai tempat suci Muslim.
Kemegahan Ottoman (Utsmaniyah)
Sultan Suleiman Al-Qanuni (The Magnificent) memberikan kontribusi yang paling terlihat hingga sekarang. Beliau mengganti mosaik luar yang rusak dengan ubin keramik Qashani berwarna biru yang sangat indah. Di bagian atas kubah, tertulis Surah Yasin dengan kaligrafi Thuluth yang memukau—sebuah karya seni yang menjadi pahala mengalir terus bagi sang Sultan hingga hari ini.
5. Menepis Mitos vs. Realitas Suci
Penting bagi kita, melalui edukasi di wakafmulia.org, untuk membedakan antara fakta agama dan mitos populer agar ibadah kita tetap sesuai syariat.
Koreksi Kesalahpahaman
Beberapa mitos yang sering beredar di masyarakat antara lain:
-
Batu Melayang: Ada anggapan bahwa batu di dalam kubah melayang di udara tanpa penyangga. Secara fisik, batu ini adalah bagian dari puncak bukit Moriah dan memiliki gua di bawahnya (Bir al-Arwah), namun ia tetap menempel pada pondasi bumi.
-
Sungai Surga: Narasi bahwa air di seluruh dunia berasal dari bawah batu ini tidak memiliki sandaran hadis yang kuat (sahih).
Perspektif Ibnu Taymiyyah
Ulama besar Ibnu Taymiyyah menjelaskan dalam kitab Iqtidha’ al-Shirath al-Mustaqim bahwa meskipun tempat ini sangat mulia karena peristiwa Mi’raj, umat Islam tidak boleh mengultuskan batu tersebut secara berlebihan (seperti menciumnya atau melakukan ritual yang menyerupai penghormatan Hajar Aswad). Kesuciannya terletak pada keberkahannya sebagai bagian dari kompleks Masjid Al-Aqsa.
6. Tantangan Modern: Ancaman Terhadap Wakaf Islam
Saat ini, Dome of the Rock dan seluruh kompleks Al-Aqsa menghadapi ancaman yang paling serius dalam sejarah modern. Upaya de-Islamisasi terus dilakukan oleh kelompok ekstremis.
Ritual “Sapi Merah” (Red Heifer)
Kelompok ekstremis Yahudi “Temple Mount” telah mendatangkan sapi merah dari Amerika Serikat untuk ritual penyucian kuno. Ritual ini dianggap sebagai prasyarat bagi mereka untuk meruntuhkan Dome of the Rock dan membangun “Kuil Ketiga” di atas reruntuhannya.

Agresi Sistematis Sejak 1967
Sejak pendudukan Yerusalem Timur pada tahun 1967, berbagai ancaman terus muncul:
-
Kebakaran 1969: Upaya pembakaran Masjid Al-Aqsa yang merusak mimbar Nuruddin Zanki.
-
Penggalian Ilegal: Penggalian di bawah fondasi masjid dengan dalih arkeologi yang mengancam stabilitas struktur bangunan.
-
Pembagian Ruang dan Waktu: Upaya Israel untuk menetapkan jam kunjungan khusus bagi warga Yahudi, yang bertujuan membagi Masjid Al-Aqsa secara permanen.
Bahaya “De-Islamisasi” Arkeologi
Upaya memalsukan narasi sejarah dengan mengeklaim temuan-temuan arkeologi Yahudi di bawah Dome of the Rock terus digencarkan untuk menghapus identitas Islam dari kota Yerusalem. Padahal, secara hukum internasional dan sejarah, seluruh area 144.000 meter persegi adalah milik wakaf umat Islam.

7. Kesimpulan: Tanggung Jawab Kita Terhadap Mahkota Al-Aqsa
Dome of the Rock bukan sekadar museum atau peninggalan masa lalu. Ia adalah rumah ibadah yang aktif, simbol keteguhan umat, dan sebuah amanah (trust) yang harus kita jaga bersama.
Sebagai Muslim, kita tidak boleh diam melihat ancaman terhadap Baitul Maqdis. Menjaga Al-Aqsa adalah menjaga kehormatan Islam. Wakaf Mulia Institute mengajak Anda untuk terus belajar, menyebarkan informasi yang benar, dan memberikan dukungan terbaik bagi mereka yang sedang melakukan Ribat (berjaga-jaga) di garda terdepan Palestina.
Melalui program wakaf uang di wakafmulia.org, kita bisa berkontribusi dalam memperkuat kemandirian umat Islam di berbagai sektor, termasuk dukungan terhadap pelestarian warisan-warisan Islam. Ingatlah bahwa setiap rupiah yang Anda wakafkan akan menjadi sedekah jariyah yang pahalanya akan terus mengalir meskipun kita telah tiada.
Penutup
Dome of the Rock akan tetap menjadi saksi bisu kejayaan Islam. Ia adalah “Mahkota Emas” yang tidak akan pernah bisa diklaim oleh penjajah mana pun selama ada iman di dada umat Islam. Mari kita jadikan sejarah ini sebagai motivasi untuk memperbanyak amal saleh dan kontribusi nyata melalui wakaf.
Mari berwakaf sekarang di wakafmulia.org dan jadilah bagian dari penjaga warisan peradaban Islam!
Sumber referensi utama: Al Jazeera Documentaries (2024).



