Masjidil Haram di Mekkah adalah kiblat umat Islam seluruh dunia. Setiap tahun, jutaan muslim berbondong-bondong ke sana untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah. Keagungannya bukan hanya terletak pada bangunan fisik, melainkan juga pada sejarah panjangnya yang penuh dengan perhatian dan pengorbanan para pemimpin muslim sejak ribuan tahun lalu.
Seratus tahun lalu, Masjidil Haram hanya mampu menampung kurang dari 50.000 jemaah sekaligus. Hari ini, berkat perluasan terbesar dalam sejarahnya, kapasitasnya mencapai 3 juta jemaah dalam waktu yang sama dan sekitar 107.000 orang dapat melakukan thawaf per jam. Perubahan luar biasa ini adalah bukti nyata kasih sayang Allah SWT dan kepedulian para pemimpin muslim terhadap Baitullah.
Perluasan Masjidil Haram bukan sekadar proyek pembangunan biasa. Ia adalah wujud jihad harta dan dedikasi abadi untuk memudahkan umat beribadah. Mari kita telusuri tahapan sejarahnya yang penuh hikmah.

Pengertian dan Batas-Batas Haram
Kata “Haram” berarti tempat yang diharamkan di dalamnya segala hal yang biasa dibolehkan di tempat lain. Mekkah adalah tanah suci yang dipilih Allah SWT dengan keistimewaan tersendiri. Setiap muslim wajib menjaga kesucian dan kehormatannya.
Menurut Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi, batas Haram meliputi:
- Utara: Sampai Masjid Aisyah (sekitar 5 km dari Mekkah)
- Selatan: Hingga 20 km ke arah Gunung Arafah
- Barat: Menuju Jeddah sampai daerah Hudaybiyyah (sekitar 18 km)
- Timur: Hingga Ja’ranah (sekitar 14,5 km)
Menjaga kesucian Haram adalah tanggung jawab bersama umat Islam.
Awal Mula: Fondasi Nabi Ibrahim AS dan Era Khulafaur Rasyidin
Pembangunan Ka’bah dimulai sejak Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS, atas perintah Allah SWT. Ka’bah menjadi pusat ibadah dan tujuan para peziarah.
Perluasan pertama terjadi pada masa Khulafaur Rasyidin. Pada tahun 17 Hijriah, Khalifah Umar bin Khattab melihat area thawaf (mataf) sudah terlalu sempit. Beliau membeli rumah-rumah di sekitar Ka’bah, merobohkannya, dan memperluas area thawaf. Meski ada sebagian pemilik yang keberatan, Umar tetap melanjutkan dengan memberikan ganti rugi yang adil. Beliau juga membangun tembok rendah untuk memisahkan masjid dari pemukiman sekitar dan memasang lampu penerangan.
Kemudian, Khalifah Utsman bin Affan menambahkan arqah (ruang-ruang bertiang) yang bersifat tertutup dan tiang-tiang dari marmer, serta tempat untuk menggantung lampu penerangan. Langkah ini semakin memperindah dan memperluas Masjidil Haram.
Perkembangan di Masa Dinasti-Dinasti Islam
Pada masa Dinasti Umayyah dan Abbasiyah, perluasan terus berlanjut. Para khalifah mendatangkan tiang-tiang berkualitas dari Mesir dan Suriah untuk memperkuat struktur masjid.
Puncak perhatian terjadi pada masa Kesultanan Utsmaniyah. Para sultan sangat mencintai Masjidil Haram sehingga gelar “Khademul Haramain” (Pelayan Dua Tanah Suci) diberikan kepada sultan Utsmaniyah. Fokus mereka adalah pemeliharaan, perbaikan, dan keindahan bangunan. Setelah runtuhnya Kekhalifahan Utsmaniyah, kegiatan besar-besaran terhenti dan hanya dilakukan perbaikan rutin.

Era Kerajaan Saudi: Lonjakan Perluasan Modern
Setelah Kerajaan Saudi didirikan oleh Raja Abdul Aziz bin Abdurrahman Al Saud, era baru pembangunan dimulai.
- Raja Abdul Aziz (1927–1928): Memasang mizalla (payung besar) untuk melindungi jemaah dari terik matahari, menghadirkan penerangan listrik penuh di seluruh masjid, dan membuat pintu baru Ka’bah dari perak murni dengan ukiran ayat Al-Qur’an berlapis emas.
- Raja Saud bin Abdul Aziz (1955): Melakukan perluasan resmi pertama. Luas masjid bertambah menjadi 160.000 m² dengan kapasitas sekitar 400.000 jemaah. Area thawaf diperluas dan dilapisi marmer tahan panas. Ditambahkan pula 64 pintu baru di berbagai sisi masjid. Pada masa ini pula dibangun Safa-Marwah dua lantai.
- Raja Fahd bin Abdul Aziz (1988): Melakukan perluasan kedua. Luas total mencapai 366.000 m² dengan kapasitas 820.000 jemaah. Ditambahkan eskalator, sistem AC sentral, jaringan air dan suara yang lebih baik. Bagian barat masjid diperluas dengan material mewah: marmer, granit, kristal, dan emas.
- Raja Abdullah bin Abdul Aziz (2011) & diselesaikan Raja Salman (2015): Perluasan terbesar sepanjang sejarah. Luas Masjidil Haram mencapai sekitar 1,5 juta meter persegi. Kapasitas naik drastis hingga 3 juta jemaah. Proyek ini menjadi yang paling megah dan modern.
Inovasi Teknologi dan Fasilitas Terkini
Perluasan tidak hanya soal luas, tapi juga kenyamanan dan keselamatan. Sistem kamera dan sensor canggih memantau jumlah jemaah untuk mencegah kepadatan. Robot pintar digunakan untuk mendistribusikan air Zamzam dan membersihkan area. Tersedia aplikasi panduan multi-bahasa serta layar interaktif yang memudahkan jemaah dari seluruh dunia.
Tantangan dan Ketangguhan Masjidil Haram
Sepanjang sejarah, Masjidil Haram pernah menghadapi ujian berat. Salah satunya adalah insiden pengepungan oleh Juhayman Al-Utaybi pada 20 November 1979 yang berlangsung dua minggu. Masjid juga sempat ditutup sementara selama pandemi Covid-19 pada 2020 selama sekitar empat bulan. Namun, seperti biasa, Masjidil Haram selalu bangkit lebih baik dan siap menyambut jutaan jemaah kembali.
Pelajaran Berharga: Mari Terus Berwakaf
Sejarah perluasan Masjidil Haram mengajarkan kita bahwa membangun rumah Allah adalah amal jariyah paling mulia. Para khalifah dan raja rela mengorbankan harta dan tenaga demi kenyamanan umat. Mereka telah memberikan contoh nyata jihad harta yang pahalanya mengalir terus hingga hari kiamat.
Kita di Indonesia mungkin tidak bisa ikut membangun Masjidil Haram secara langsung. Namun, kita bisa meneladani semangat yang sama melalui wakaf. Setiap rupiah yang kita wakafkan untuk masjid, pesantren, atau fasilitas ibadah akan menjadi saksi kebaikan kita di akhirat.
Wakaf Mulia Institute mengajak Anda untuk berpartisipasi dalam sedekah jariyah abadi. Melalui wakaf uang yang fleksibel dan transparan di wakafmulia.org, Anda bisa ikut membangun warisan kebaikan yang terus bermanfaat bagi umat.
Setiap wakaf Anda adalah kontribusi nyata untuk memperluas “ruang ibadah” bagi saudara-saudara kita di tanah air. Pahalanya akan terus mengalir, insya Allah, seperti perluasan Masjidil Haram yang tak pernah berhenti melayani umat.
Mari wakaf sekarang di wakafmulia.org dan jadilah bagian dari sejarah kebaikan yang abadi.
Sumber: Artikel BBC News Arabic “ما هي مراحل توسعة الحرم المكي عبر التاريخ?” (4 Juni 2025).


