Mahakarya Arsitektur dan Pendidikan Islam
Di tengah hiruk-pikuk sejarah Islam, terdapat beberapa peninggalan monumental yang tidak hanya merepresentasikan keagungan seni bina, tetapi juga komitmen mendalam terhadap pendidikan dan penyiaran agama Allah. Salah satu puncak pencapaian arsitektur dan intelektual dunia Islam adalah Madrasah Sultan Hasan, yang dibangun antara tahun 757–764 Hijriah atau sekitar 1356–1363 Masehi. Berdiri kokoh di ibu kota Mesir, kompleks ini dirancang bukan sekadar sebagai bangunan megah, melainkan sebagai pusat keunggulan intelektual yang menyatukan empat mazhab besar fikih Islam di bawah satu atap, menjadikannya sebuah mahakarya yang tidak tertandingi pada masanya. Institusi ini didirikan sebagai bentuk nyata dari syiar Islam dan sistem pengelolaan wakaf yang sangat maju, di mana seluruh fasilitas operasional, gaji pengajar, hingga beasiswa pelajar dipenuhi melalui pendapatan aset produktif yang telah didekasikan di jalan Allah. Melalui pengelolaan yang profesional, madrasah ini diharapkan menjadi sumur mata air ilmu pengetahuan yang mengalirkan sedekah jariyah bagi sang pendiri dan para pengelolanya tanpa terputus.
Ketika Tempat Suci Menjadi Target Militer
Namun, sejarah menyimpan sebuah ironi yang mendalam bagi institusi suci ini. Meskipun didirikan dengan niat mulia untuk mengabdi kepada Allah dan memfasilitasi para penuntut ilmu , skala bangunannya yang masif dan lokasi topografisnya yang sangat strategis secara tidak sengaja mengubah madrasah ini menjadi target militer utama dalam berbagai pergolakan politik di era Kesultanan Mamluk. Letaknya yang berada di titik nadi pertahanan kota menjadikannya sebuah aset taktis yang diperebutkan oleh faksi-faksi politik yang haus akan kekuasaan. Akibatnya, alih-alih menjadi ruang tenang bagi para santri untuk menghafal Al-Qur’an dan menelaah hadis, Madrasah Sultan Hasan berulang kali dipersenjatai, dikepung, dibombardir, dan dialihfungsikan menjadi barak militer serta benteng pertahanan.
Wakaf di Tengah Badai Politik
Tragedi sejarah ini memperkenalkan sebuah tema krusial bagi kita semua: bagaimana ketidakstabilan politik dan konflik internal dapat secara mendadak menghentikan fungsi sakral dari sebuah lembaga wakaf. Ketika hukum dan stabilitas sosial runtuh akibat ambisi personal para penguasa, aset umat yang bernilai tinggi pun tidak luput dari kehancuran fisik dan fungsional. Di sinilah kita melihat betapa pentingnya perlindungan institusional dan tata kelola yang independen serta kokoh.
Di era modern saat ini, nilai-nilai ketahanan aset spiritual inilah yang diperjuangkan oleh lembaga seperti Wakaf Mulia Institute melalui portal resmi wakafmulia.org. Kami percaya bahwa agar pahala mengalir terus, sebuah proyek keummatan tidak hanya membutuhkan kedermawanan di awal pembangunannya, tetapi juga sistem manajemen risiko, perlindungan hukum, dan stabilitas operasional yang mampu melindunginya dari fluktuasi zaman dan konflik sosial. Sejarah Madrasah Sultan Hasan adalah cermin besar bagi umat Islam hari ini untuk memahami pentingnya profesionalisme dalam menjaga keberlangsungan harta Allah di muka bumi.

Gambar: Wilayah kekuasaan Mamluk di masa terluasnya.
2. Kedekatan Fatal dengan Episentrum Kekuasaan
Untuk memahami mengapa sebuah institusi pendidikan bisa terseret begitu jauh ke dalam medan pertempuran yang berdarah, kita harus melihat peta tata kota Kairo pada masa itu. Madrasah Sultan Hasan dibangun di sebuah lokasi yang secara geopolitik sangat sensitif: tepat berada di seberang Benteng Gunung (Qal’at al-Jabal), yang merupakan pusat pemerintahan resmi, kedudukan militer tertinggi, dan tempat tinggal para Sultan Mamluk. Kedekatan fisik yang sangat intim dengan kursi kekuasaan ini lantas menjadi kutukan tersendiri bagi madrasah. Siapa pun faksi pemberontak yang ingin menggulingkan penguasa di dalam benteng, atau sebaliknya, sultan yang ingin mempertahankan posisinya, akan langsung melihat struktur fisik madrasah sebagai elemen kunci yang harus dikuasai terlebih dahulu.
Al-Rumayla: Alun-Alun Panggung Pemberontakan
Madrasah ini dibangun menghadap langsung ke arah timur dan menyajikan pandangan luas ke Alun-Alun Al-Rumayla (Maydān al-Rumayla). Alun-alun ini, terutama setelah dibangun kembali oleh Sultan al-Nāṣir Muhammad ibn Qalāwūn, telah lama berfungsi sebagai episentrum demonstrasi massa, pergerakan militer, dan panggung utama bagi para pembangkang yang menentang otoritas resmi yang bertakhta di benteng. Ribuan massa dan tentara faksi sering kali berkumpul di Al-Rumayla untuk meluncurkan protes atau pengepungan. Berdiri kokoh tepat di tepi alun-alun ini, Madrasah Sultan Hasan secara otomatis berada di garis depan setiap kali ada badai politik yang melanda ibu kota.
![]()
Gambar: Alun-alun al-Rumailah, Kairo. Madrasah al-Sultan Hasan dapat terlihat di latar.
Keuntungan Militer yang Tak Sengaja
Secara arsitektural, Madrasah Sultan Hasan dirancang dengan dinding luar yang luar biasa tinggi dan kokoh. Ketinggian struktur utamanya, ditambah dengan atapnya yang luas dan menara kembar (twin minarets) yang menjulang tinggi, memberikan keuntungan militer tak terbantahkan yang sangat masif bagi siapa saja yang berhasil mendudukinya.
Dari atap madrasah yang tinggi ini, faksi militer dapat dengan mudah memasang artileri berat kuno (makāhil) untuk membombardir wilayah dalam Benteng Gunung yang berada di seberangnya. Sementara itu, balkoni-balkoni menaranya yang tinggi memberikan sudut pandang sempurna bagi para pemanah untuk membidik dan melepaskan anak panah langsung ke halaman istana-istana milik kelas penguasa. Sebaliknya, posisi ini juga menjadikan madrasah sebagai target pembalasan yang sah dari pasukan benteng, yang membalas serangan dengan tembakan meriam ke arah madrasah. Fleksibilitas militer yang tidak disengaja inilah yang merusak kesucian fungsional madrasah sebagai tempat ibadah dan belajar.

Gambar: Madrasah al-Sultan Hasan tampak dari atas Benteng Salahuddin (Qal’at al-Jabal).
3. Tujuh Konflik Yang Mengancam Madrasah Ini
Sepanjang era Mamluk, sejarah mencatat setidaknya tujuh konflik politik besar yang secara langsung memanfaatkan keunggulan strategis Madrasah Sultan Hasan, yang membawa dampak buruk bagi integritas fisik dan operasionalnya. Berikut adalah garis waktu runtutan peristiwa kelam tersebut:
| No | Tahun (Masehi) | Faksi yang Berkonflik | Dampak Terhadap Madrasah Sultan Hasan |
| 1 | 1380 M | Emir Baraka vs. Emir Barqūq |
Pertama kali dijadikan barak militer; menara digunakan untuk memanah rumah musuh. |
| 2 | 1389 M | Yalbugha al-Nāṣirī vs. Emir Mintāsh |
Atap dan kubah digunakan untuk membombardir benteng; warga ikut membawa batu ke atap. |
| 3 | 1390-1391 M | Emir Mintāsh vs. Sultan Barqūq |
Kubah hancur ditembak meriam benteng; pintu disegel dan tangga internal dihancurkan oleh Sultan. |
| 4 | 1411 M | Shaykh al-Maḥmūdī vs. Sultan Faraj |
Pendudukan militer bergantian; aktivitas ibadah dan pendidikan berhenti total. |
| 5 | 1438 M | Emir Qarāqmās vs. Sultan Jaqmaq |
Gerbang utama dibakar; muncul keputusan hukum dari Pengadilan untuk merusak tangga menara. |
| 6 | 1497 M | Emir Aqburdī vs. Sultan Muhammad |
Jendela hancur akibat artileri; gerbang dibakar lagi; marmer, lampu, dan karpet dijarah penjarah. |
| 7 | 1500 M | Emir Ṭūmān Bāy vs. Sultan Jān Balāṭ |
Sultan memerintahkan penghancuran total sekolah karena takut; pekerja gagal meruntuhkannya. |
I. Konflik Baraka dan Barqūq (1380 M)
Peristiwa ini menandai pertama kalinya dalam sejarah Madrasah Sultan Hasan dialihfungsikan secara paksa untuk kepentingan militer dan politik praktis. Ketegangan memuncak di antara dua emir paling berpengaruh yang mengendalikan pemerintahan di masa Sultan muda al-Manṣūr ‘Alī, yaitu Emir Baraka dan Emir Barqūq. Setelah sebuah gencatan senjata yang rapuh dan penuh kecurigaan (hudna ‘alā dakhan) , Barqūq secara sepihak menangkap saudara-saudara Baraka di tengah sebuah pesta perjamuan.
Sadar bahwa konfrontasi bersenjata tidak dapat dihindari, Barqūq segera memerintahkan pasukannya di bawah pimpinan Emir Bazlār al-Nāṣirī untuk menduduki Madrasah Sultan Hasan. Mereka naik ke atas atap dan menguasai menara-menaranya. Dari posisi yang sangat tinggi ini, para prajurit melemparkan hujan anak panah (nishab) langsung ke arah kediaman Emir Baraka yang terletak tepat di sebelah bangunan madrasah. Keunggulan posisi visual ini berhasil melumpuhkan pergerakan pasukan Baraka dan memaksa sang emir melarikan diri melalui pintu rahasia sebelum akhirnya dieksekusi. Tindakan Barqūq ini menjadi preseden buruk yang akan ditiru oleh para penguasa setelahnya.

II. Yalbugha al-Nāṣirī vs. Emir Mintāsh (1389 M)
Sembilan tahun kemudian, giliran Emir Mintāsh yang memanfaatkan bangunan suci ini untuk melawan Emir Yalbugha al-Nāṣirī, penguasa de facto yang mengendalikan kesultanan setelah menjatuhkan Barqūq. Ketika konfrontasi terbuka meletus pada 12 Sya’ban 791 H, pasukan Yalbugha menembaki Mintāsh dari atas dinding benteng. Mintāsh kemudian mundur dan menjadikan Madrasah Sultan Hasan sebagai pangkalan utamanya karena lokasinya yang dekat dengan rumahnya.
Pasukan Mintāsh menduduki halaman tengah, naik ke atas kubah raksasa, dan memanjat menara-menaranya madrasah untuk menyerang tentara benteng dengan batu dan panah. Menariknya, ketidakpopuleran kepemimpinan Yalbugha di mata masyarakat membuat rakyat jelata Kairo berbondong-bondong membantu pasukan Mintāsh. Mereka mengumpulkan batu dan anak panah dari jalanan, lalu memikulnya naik ke atas atap Madrasah Sultan Hasan untuk menyuplai amunisi bagi para pemberontak. Pemanfaatan energi massa ini membuahkan kemenangan bagi Mintāsh.
III. Pembalasan Terhadap Mintāsh (1390–1391 M)
Roda politik berputar cepat, dan Sultan Barqūq berhasil meloloskan diri dari penjara di Al-Karak untuk merebut kembali takhtanya. Ketika pasukan Barqūq (faksi Zāhirīyah) di bawah pimpinan Emir Buṭā al-Tulūtmurī menyerbu Kairo, para pendukung Mintāsh yang terdesak melarikan diri dan mengurung diri di dalam Madrasah Sultan Hasan sebagai benteng perlindungan terakhir mereka.
Untuk memaksa mereka menyerah, pasukan benteng mengerahkan meriam-meriam pengepungan (makkāhil) dan mengarahkannya langsung ke arah madrasah. Akibat bombardir artileri yang membabat habis pertahanan lawan, kubah megah madrasah tertembak hingga berlubang dan sebagian strukturnya runtuh secara tragis.
Setelah memenangkan pertempuran, Sultan Barqūq mengeluarkan dekret kerajaan pada 8 Safar 793 H sebagai langkah preventif agar bangunan ini tidak bisa lagi digunakan untuk menantang otoritasnya di masa depan:
-
Anak tangga menuju pintu masuk utama dihancurkan sepenuhnya.
-
Platform gerbang utama disegel rapat dari bagian dalam dengan susunan batu.
-
Akses dan jalur menuju atap serta tangga di dalam kedua menara dihancurkan total.
-
Sebuah pintu darurat alternatif dibuka secara paksa melalui salah satu jendela kubah yang menghadap ke Alun-Alun Rumayla sebagai satu-satunya jalan masuk yang dijaga ketat.
Akibat pengrusakan struktural ini, kumandang azan dari menara dihentikan dan para muazin terpaksa berdiri di pintu jendela baru tersebut untuk memanggil orang shalat.
IV. Shaykh al-Maḥmūdī vs. Sultan Faraj (1411 M)
Pada tahun 1411 M, ketidakstabilan kembali mengguncang Kairo ketika Emir Shaykh al-Maḥmūdī dan Emir Nawrūz mendeklarasikan pemberontakan terbuka terhadap Sultan al-Nāṣir Faraj (putra Barqūq). Ketika mendengar bahwa pasukan pemberontak telah memasuki ibu kota pada 8 Ramadan 813 H , Emir Sayf al-Dīn Arghūn selaku Komandan Benteng segera mengambil langkah taktis untuk mengamankan perimeter luar pertahanan benteng. Ia merebut kendali Madrasah Sultan Hasan dan menempatkan sepasukan tentara kerajaan di dalamnya untuk melindungi gerbang benteng.
Melihat hal tersebut, pada tanggal 9 Ramadan, Shaykh al-Maḥmūdī memimpin langsung pasukannya untuk mengepung madrasah. Pertempuran sengit jarak dekat meletus sepanjang hari di dalam kompleks bangunan. Pasukan pemberontak akhirnya berhasil mendesak mundur tentara sultan, memaksa mereka turun dari atap, dan mengambil alih kendali penuh atas madrasah. Dari atap yang baru dikuasai ini, mereka meluncurkan serangan balasan yang menghancurkan ke arah benteng dan kandang kuda kerajaan, yang berujung pada kejatuhan Sultan Faraj. Selama pendudukan militer yang silih berganti ini, seluruh fungsi keagamaan dan pendidikan madrasah membeku total.
V. Qarāqmās vs. Sultan Jaqmaq (1438 M)
Konflik kelima terjadi ketika Emir Qarāqmās (Komandan Persenjataan) berusaha menggulingkan Sultan Jaqmaq yang baru saja merebut takhta. Ketika pasukan Sultan Jaqmaq mulai mendesak mundur para pemberontak di Alun-Alun Rumayla , faksi Mamluk Ashrafiyya yang setia kepada Qarāqmās melakukan tindakan nekat. Mereka membakar gerbang utama Madrasah Sultan Hasan agar bisa menerobos masuk ke dalam halaman tengah. Mereka kemudian memanjat sisa-sisa akses menuju atap untuk menembakkan proyektil ke arah benteng dalam upaya terakhir yang sia-sia.
Setelah pemberontakan berhasil dipadamkan dan Qarāqmās ditangkap , Sultan Jaqmaq mengambil pendekatan yang sangat unik untuk melegitimasi pengrusakan madrasah demi kepentingan keamanan. Alih-alih mengeluarkan dekret militer langsung yang berpotensi memicu kemarahan publik dan para ulama, ia membawa masalah ini ke ranah hukum. Pada tanggal 5 Rabi’ al-Akhar 842 H, sebuah dewan hakim agung dikumpulkan di masjid benteng. Atas dasar rekomendasi sultan, Hakim Agung Shams al-Dīn Muhammad al-Baṣāṭī al-Mālikī mengeluarkan fatwa dan keputusan hukum resmi yang memerintahkan pembongkaran kembali anak tangga menuju menara dan atap madrasah. Konsekuensinya, aktivitas halaqah ilmu dan shalat berjamaah kembali lumpuh total.
VI. Aqburdī vs. Sultan Muḥammad ibn Qāytbāy (1497 M)
Memasuki akhir abad ke-15, Kairo dilingkupi konflik faksional yang semakin brutal. Emir Aqburdī, sang Dawādār Agung yang mengonsolidasikan kekuatan militer besar, merasa terancam oleh faksi jullabān (mamluk rekrutan baru) dan paman Sultan, Qānṣūh al-Ashrafī. Aqburdī membawa pasukannya mengepung benteng selama 31 hari penuh dari Alun-Alun Rumayla. Seperti pola-pola sebelumnya, ia menjadikan Madrasah Sultan Hasan sebagai benteng pertahanan utamanya. Pasukan benteng merespons dengan memasang meriam besar di atas gerbang Bāb al-Silsila dan membombardir madrasah siang dan malam. Tembakan artileri berat ini menghancurkan jendela-jendela marmer dan struktur hiasan bangunan.
Ketika posisi Aqburdī mulai melemah, pasukan Mamluk Jullabān yang beringas meluncurkan serangan balasan ke dalam madrasah. Mereka membakar pintu masuk utama untuk kedua kalinya, menjarah ruang penyimpanan ṭishtkhāna, serta membawa lari seluruh karpet sutra dan lampu gantung antik sebagai rampasan perang. Malapetaka tidak berhenti di situ; setelah tentara pergi, kelompok petarung jalanan (Zu’r) dan para budak liar merangsek masuk ke dalam area yang tak bertuan tersebut. Mereka menjarah kubah makam, mencopot paksa lapisan dinding marmer yang indah, dan merobek pintu-pintu tembaga serta teralis jendela untuk dijual sebagai besi loakan. Kompleks wakaf yang agung ini pun ditinggalkan dalam kondisi hancur lebur dan kosong melompong.
VII. Ṭūmān Bāy vs. Sultan Jān Balāṭ (1500 M)
Puncak kengerian militerisasi madrasah terjadi pada tahun 1500 M saat ketegangan memuncak antara Sultan Jān Balāṭ dan Emir Ṭūmān Bāy yang bersekutu dengan Gubernur Damaskus, Qaṣrūh. Sultan Jān Balāṭ yang dilingkupi kecemasan luar biasa mulai memperkuat benteng pertahanan Kairo. Namun, ia menyadari ada satu titik lemah yang fatal dalam sistem pertahanannya: Madrasah Sultan Hasan yang berada tepat di depan matanya. Didorong oleh rasa takut yang akut bahwa bangunan itu akan kembali jatuh ke tangan musuh dan digunakan untuk menghancurkan benteng, Sultan Jān Balāṭ mengambil keputusan yang sangat radikal dan tidak masuk akal: ia memerintahkan agar seluruh bangunan Madrasah Sultan Hasan dihancurkan rata dengan tanah.
Proses pembongkaran paksa dimulai pada hari-hari terakhir bulan Jumadil Awal 906 H. Para pekerja dikerahkan untuk meruntuhkan dinding tebal di belakang mihrab kubah utama. Selama tiga hari berturut-turut, suara hantaman palu dan pasak menggema di dalam bangunan suci tersebut. Namun, sebuah “keajaiban” arsitektural terjadi. Karena luar biasanya presisi dan kokohnya kualitas semen serta ketebalan batu pertahanan yang dibangun berabad-abad lalu, alat-alat besi para pekerja justru patah dan tumpul tanpa mampu merobohkan struktur utama bangunan.
Tindakan vandalisme ini memicu kemarahan mendalam dan kecaman luas dari masyarakat serta para pembesar istana yang masih memiliki nurani. Emir Taghrībirdī al-Ustadār akhirnya menghadap Sultan secara langsung dan menegaskan bahwa tindakan menghancurkan rumah Allah ini adalah kejahatan moral yang tidak membawa keuntungan taktis apa pun. Sultan akhirnya membatalkan perintah tersebut, meski ia tetap memerintahkan penghancuran anak tangga akses ke menara sebagai pelampiasan rasa takutnya. Pada akhirnya, pasukan Ṭūmān Bāy tetap berhasil menguasai madrasah tersebut, menempatkan meriam di atas atapnya, dan memenangkan pertempuran dalam hitungan hari.
4. Dampaknya bagi Madrasah
Ketika sebuah aset wakaf beralih fungsi menjadi medan perang, kerugian terbesar sebenarnya tidak hanya dihitung dari runtuhnya dinding batu atau hancurnya marmer, melainkan dari runtuhnya tatanan sosial, spiritual, dan intelektual masyarakat yang seharusnya dilayani oleh institusi tersebut.
Sunyinya Suara Azan di Langit Kairo
Salah satu dampak paling menyedihkan dari rangkaian konflik politik ini adalah dibungkamnya syiar Islam di tempat ini. Akibat dekret penutupan jalan dan penghancuran anak tangga yang diberlakukan oleh Sultan Barqūq, kumandang azan dari puncak menara kembar Madrasah Sultan Hasan terhenti total selama lebih dari tiga dekade (30 tahun). Langit di sekitar Alun-Alun Rumayla kehilangan lantunan syahdu panggilan shalat yang biasanya menggema lima kali sehari dari salah satu menara tertinggi di dunia Islam tersebut. Ibadah shalat berjamaah dikosongkan, dan kompleks ini dilingkupi atmosfer kesunyian yang mencekam seperti bangunan mati.
Terputusnya Rantai Ilmu Pengetahuan
Fungsi utama bangunan ini sebagai madrasah—sebuah universitas Islam yang dirancang untuk menampung ratusan pelajar, fukaha, dan ulama besar—mengalami gangguan yang sangat parah. Pengusiran para penuntut ilmu secara paksa, penutupan ruang kuliah (iwan), dan transformasi ruang kelas menjadi gudang senjata serta tempat persembunyian tentara telah memutus rantai transmisi keilmuan Islam. Halaqah-halaqah tadarus Al-Qur’an, pembacaan hadis, dan diskusi hukum fikih yang seharusnya menghasilkan ulama-ulama besar bagi umat terhenti bertahun-tahun.
Bagi sang pendiri dan para donatur wakaf, kondisi ini merupakan sebuah kerugian spiritual yang tak ternilai, karena tujuan utama mereka untuk mengalirkan sedekah jariyah melalui ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat luas terhambat oleh keserakahan politik praktis faksi militer.
Ironi Pencurian Pintu oleh Sultan al-Mu’ayyad Shaykh
Di tengah masa-masa kelam saat pintu utama madrasah disegel dengan batu oleh perintah kerajaan , terjadi sebuah skandal budaya dan spiritual yang melibatkan salah satu penguasa Mamluk berikutnya, Sultan al-Mu’ayyad Shaykh. Saat membangun masjid barunya yang megah di dekat gerbang Bāb Zūwayla, Sultan al-Mu’ayyad enggan mengeluarkan biaya besar atau menunggu lama untuk memproduksi pintu dan ornamen baru dengan kualitas terbaik. Ia memanfaatkan kondisi Madrasah Sultan Hasan yang sedang “mati suri” dan tidak terjaga.
Sultan al-Mu’ayyad secara sepihak mencopot pintu perunggu raksasa yang sangat indah beserta lampu gantung perunggu (tanūr) berukuran masif dari Madrasah Sultan Hasan, lalu memasangnya di masjid barunya sendiri. Untuk melegitimasi tindakan penjarahan aset wakaf ini, ia berdalih melakukan “pembelian resmi” dari pengelola madrasah dengan harga yang sangat murah dan tidak masuk akal, yaitu hanya sebesar 500 dinar.
Tindakan penjarahan terselubung ini memicu kecaman keras dari sejarawan besar zaman itu, seperti Ibn Taghrībirdī, yang menulis dengan nada sarkasme bahwa Raja al-Mu’ayyad sebenarnya mampu membuat pengganti yang jauh lebih baik jika saja ia memiliki ambisi dan kehormatan yang lebih besar; tindakan pencopotan ini mencerminkan rendahnya rasa kehormatan dan perilaku yang sangat tidak patut pada berbagai tingkatan.
Bahkan, salah satu komandan militer terkemuka yang setia kepada al-Mu’ayyad secara pribadi mengaku malu kepada Ibn Taghrībirdī atas perilaku rajanya. Ia berjanji bahwa jika suatu saat ia naik takhta dan memiliki kekuasaan penuh, ia akan mendanai pembuatan pintu baru yang lebih mewah untuk Masjid al-Mu’ayyad dan mengembalikan gerbang perunggu asli ke tempat asalnya di Madrasah Sultan Hasan. Sayangnya, ajal menjemput emir tersebut sebelum ia sempat memenuhi sumpah setianya.
5. Usaha-Usaha Restorasi
Meskipun Madrasah Sultan Hasan berulang kali mengalami pengrusakan dan penjarahan yang mengerikan, Allah SWT selalu menggerakkan hati para hamba-Nya yang saleh di antara lingkaran penguasa untuk bertindak sebagai pelindung harta wakaf ini dan memulihkan kembali fungsi asalnya.
Intervensi Penyelamatan oleh Sultan Barsbāy
Setelah lebih dari tiga puluh tahun merana dalam kondisi tertutup, hancur, dan sunyi dari suara azan , secercah cahaya pemulihan akhirnya datang pada masa pemerintahan Sultan al-Ashraf Barsbāy. Tepat pada tanggal 9 Ramadan 825 H (26 Agustus 1422 M), Sultan Barsbāy mengeluarkan perintah tegas untuk mengakhiri masa pengasingan madrasah.
Ia mengerahkan pekerja untuk membongkar tumpukan batu besar yang menyumbat dan menyegel gerbang utama madrasah sejak zaman Barqūq. Karena pintu perunggu asli telah dicuri oleh al-Mu’ayyad Shaykh, Barsbāy mendanai pembuatan dan pemasangan pintu kayu baru yang kokoh untuk menggantikannya. Tidak hanya itu, ia juga merekonstruksi kembali seluruh anak tangga batu menuju atap dan memperbaiki jalur tangga internal di dalam menara kembar yang telah dihancurkan.
Begitu proyek restorasi selesai, ia memerintahkan para muazin untuk kembali naik ke puncak menara dan mengumandangkan azan dengan lantang. Tindakan visioner Sultan Barsbāy ini berhasil menghidupkan kembali denyut nadi spiritual madrasah, memulihkan aktivitas belajar mengajar para santri, dan mengembalikan martabat estetika bangunan suci ini.
Kebangkitan Madrasah di Tangan Ṭūmān Bāy
Satu abad kemudian, setelah madrasah ini kembali hancur lebur dan dijarah habis-habisan oleh faksi Jullabān serta petarung jalanan dalam konflik Aqburdī (1497 M) , Allah kembali menghadirkan sosok penyelamat dalam diri Emir Ṭūmān Bāy (yang saat itu menjabat sebagai Dawādār Kedua). Tergerak oleh rasa hormat yang mendalam terhadap institusi wakaf, Ṭūmān Bāy mengambil inisiatif besar untuk mendanai pemulihan total tanpa menggunakan dana negara.
Ia membangun kembali gerbang utama yang telah hangus terbakar menjadi arang. Ia juga menutup jendela-jendela makam yang hancur, memesan ubin marmer baru untuk menggantikan lapisan dinding dalam yang telah dicopet penjarah, serta melakukan perbaikan struktural menyeluruh pada bagian bangunan yang retak akibat bombardir meriam. Proyek restorasi kilat ini selesai pada bulan Ramadan 903 H (Mei 1498 M).
Berkat kedermawanannya, khotbah Jumat dan shalat Tarawih berjamaah dapat kembali dilaksanakan di bawah kubah madrasah setelah sempat mati total selama sepuluh bulan penuh. Beberapa tahun kemudian, ketika ia telah naik takhta menjadi Sultan dan bangunan ini kembali rusak akibat pengepungan Jān Balāṭ (1500 M) , Sultan Ṭūmān Bāy kembali melakukan kebiasaan mulianya: ia memperbaiki dinding kiblat yang jebol, merestorasi kubah utama, dan membuka kembali pintu madrasah secara resmi pada Januari 1501 M, yang sekaligus menjadi akhir dari keterlibatan militer bangunan ini dalam sejarah era Mamluk.
6. Kesimpulan
Ketahanan Abadi dari Institusi Wakaf
Membaca lembar demi lembar sejarah Madrasah Sultan Hasan membawa kita pada satu kesimpulan yang menggetarkan jiwa: kekuatan dari sebuah komitmen yang tulus di jalan Allah. Meskipun bangunan ini telah melewati berbagai ujian ekstrem yang sanggup meruntuhkan kota—mulai dari hantaman meriam artileri berat , pembakaran gerbang utama berulang kali , perintah pembongkaran yudisial , penjarahan marmer dinding , hingga dekret penghancuran total dari seorang sultan yang ketakutan —Madrasah Sultan Hasan tetap berdiri tegak dengan megah hingga detik ini di Kairo.
Keberadaannya yang abadi melintasi pergantian abad adalah bukti nyata dari janji Allah terhadap keabarian harta yang telah diwakafkan secara ikhlas. Fisik bangunan bisa dirusak dan dijarah, namun status hukumnya sebagai tanah Allah dan esensi spiritualnya tidak akan pernah bisa dihapuskan oleh ambisi fana manusia.
Panggilan untuk Menjaga Harta Umat di Era Modern
Sejarah kelam militerisasi Madrasah Sultan Hasan memberikan pelajaran berharga bagi generasi Muslim modern mengenai kewajiban syar’i untuk melindungi dan menjaga aset wakaf serta warisan budaya Islam dari dampak buruk polarisasi politik dan konflik sosial. Wakaf bukanlah komoditas politik yang bisa dieksploitasi demi kepentingan faksi atau golongan, melainkan sebuah instrumen suci bagi kesejahteraan universal umat manusia.
Di sinilah Wakaf Mulia Institute hadir mengambil peran penting di Indonesia melalui gerakan dakwah dan edukasi di portal wakafmulia.org. Kami memahami bahwa tantangan pengelolaan wakaf di era modern tidak lagi berupa serangan meriam atau panah, melainkan berupa risiko salah urus, inflasi nilai mata uang, ketidakpastian regulasi, dan kurangnya integrasi teknologi. Oleh karena itu, kami mengajak Anda sekalian untuk mengalihkan orientasi harta kita menuju investasi akhirat yang aman dan berdampak jangka panjang melalui instrumen inovatif seperti wakaf uang.
Dengan menyalurkan dana wakaf Anda secara resmi melalui lembaga yang amanah dan profesional, dana tersebut akan dikelola secara produktif untuk membangun fasilitas pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi umat yang mandiri dari intervensi faksi apa pun. Mari kita teladani semangat Sultan Barsabāy dan Ṭūmān Bāy yang menginfakkan jiwa dan hartanya untuk membangun kembali peradaban Islam yang sempat runtuh. Salurkan kontribusi terbaik Anda sekarang juga melalui wakafmulia.org, dan pastikan setiap rupiah yang Anda wakafkan bertransformasi menjadi aliran pahala mengalir terus yang akan menemani kita di alam kubur kelak. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.
Sumber Jurnal Referensi Utama:
Salem, Ahmad Magdy. (2025). Political Conflicts and Their Impact on the Madrasa of Sultan Hasan During the Mamluk Era. International Journal of Tourism and Hospitality Sciences (IJTHS), O6U, Vol. 9, No. 2, pp. 78-110.


