Pernahkah Anda membayangkan sebuah institusi yang mampu bertahan lebih dari 1.300 tahun, melahirkan ribuan ulama, ilmuwan, dan penyair, serta menjadi benteng identitas sebuah bangsa? Di jantung kota Tunis, Tunisia, berdiri tegak sebuah monumen hidup bernama Masjid Al-Zaytuna (atau Ez-Zitouna).
Bagi kita di Indonesia, nama ini mungkin tidak sepopuler Al-Azhar di Mesir. Namun, sejarah mencatat bahwa Al-Zaytuna adalah salah satu mercusuar intelektual tertua di dunia Islam yang eksistensinya tidak lepas dari kekuatan wakaf. Artikel ini akan membawa Anda menelusuri sejarah, arsitektur, hingga bagaimana sistem sedekah jariyah menjaga cahaya ilmu tetap menyala di sana selama belasan abad.
I. Pendahuluan: Mercusuar dari Afrika Utara
Al-Zaytuna memiliki identitas ganda yang luar biasa: ia adalah Masjid Agung (Al-Masjid al-A’zam) sekaligus universitas pionir yang mendahului banyak institusi pendidikan modern di Barat. Didirikan pada tahun 79 Hijriah (698 M) oleh panglima Hassan ibn al-Nu’man, Masjid Al-Zaytuna menjadi salah satu jejak Islam paling awal di benua Afrika.
Sejak awal berdirinya, Al-Zaytuna bukan sekadar tempat ruku dan sujud. Ia adalah pusat gravitasi ilmu pengetahuan. Dari mihrabnya, terpancar diskusi-diskusi tajam yang kemudian berkembang menjadi “Madrasah Al-Zaytuna”, sekolah pemikiran pertama di Afrika yang melahirkan raksasa intelektual seperti Ibn Khaldun. Di sinilah bukti nyata bahwa masjid dalam Islam adalah pusat peradaban, sebuah konsep yang terus diperjuangkan oleh Wakaf Mulia Institute melalui berbagai program literasi dan edukasi wakaf.

II. Akar dan Asal-Usul: Misteri Pohon Zaitun di Balik Nama
Sejarah pendirian Masjid Al-Zaytuna penuh dengan narasi yang menggugah. Hassan ibn al-Nu’man al-Ghassani, sang penakluk wilayah Afrika Utara di masa Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan, memilih lokasi yang strategis di jantung kota Tunis.
Namun, dari mana nama “Al-Zaytuna” berasal? Para sejarawan menawarkan dua teori menarik:
-
Teori Pohon Zaitun: Versi yang paling masyhur menyebutkan bahwa masjid ini dibangun di sebuah bukit kecil yang di tengahnya tumbuh sebuah pohon zaitun yang rimbun. Pohon ini memberikan keteduhan bagi para pencari ilmu di masa awal.
-
Teori Saint Olivia: Beberapa studi sejarah menunjukkan kemungkinan masjid ini dibangun di atas reruntuhan gereja Bizantium yang didedikasikan untuk seorang santa bernama “Olivia” (yang berarti Zaitun dalam bahasa Latin).
Terlepas dari asal-usul namanya, pohon zaitun itu sendiri adalah simbol keberkahan yang disebut dalam Al-Qur’an. Sebagaimana pohon zaitun yang terus berbuah, pahala mengalir terus bagi mereka yang mewakafkan hartanya untuk pembangunan masjid dan institusi pendidikan seperti Al-Zaytuna.
III. Keagungan Arsitektur: Perpaduan Berbagai Peradaban
Secara visual, Masjid Al-Zaytuna adalah sebuah mahakarya. Berdiri di atas lahan seluas 5.000 meter persegi, bangunan ini mencerminkan perjalanan sejarah Tunisia yang panjang melalui sentuhan arsitektur yang beragam.
Unsur-Unsur Utama Arsitektur Al-Zaytuna:
| Fitur Utama | Deskripsi | Gaya Arsitektur |
| Pilar dan Kolom | Memiliki 184 pilar marmer kuno di ruang shalat utama. | Romawi & Bizantium |
| Mihrab | Dihiasi dengan ukiran gips dan kaligrafi yang sangat halus. | Dinasti Fatimiyah |
| Menara (Al-Manara) | Menara setinggi 43 meter berbentuk persegi. | Moor (Andalusia-Maghribi) |
| Halaman (Sahn) | Halaman terbuka luas dikelilingi oleh arkade berpilar marmer. | Klasik Islam |
Salah satu fitur paling unik adalah jam matahari (mzoula) yang terletak di tengah halaman. Di masa lalu, jam ini menjadi standar utama untuk menentukan waktu shalat bagi penduduk kota Tunis. Desain interiornya sangat mirip dengan Masjid Agung Cordoba di Spanyol, menunjukkan betapa eratnya hubungan budaya antara Tunisia dan Andalusia di masa kejayaan Islam.
IV. Kedahsyatan Wakaf: Menjaga Cahaya Ilmu Selama Belasan Abad
Inilah bagian terpenting yang menjadi inti dari misi wakafmulia.org. Mengapa Al-Zaytuna bisa bertahan melewati berbagai dinasti (Umayyah, Abbasiyah, Fatimiyah, Hafshiyah, hingga Usmaniyah)? Jawabannya adalah sistem wakaf yang berkelanjutan.
Di masa kejayaannya, Al-Zaytuna tidak bergantung pada dana pemerintah semata. Institusi ini didukung oleh ribuan hektar tanah produktif, toko-toko di pasar tradisional, dan bangunan komersial yang statusnya adalah harta wakaf.
-
Perpustakaan Wakaf: Al-Zaytuna memiliki tiga perpustakaan besar, di antaranya Perpustakaan Al-Abdaliya. Biaya operasional, gaji pustakawan, hingga pengadaan kitab-kitab langka didanai sepenuhnya oleh hasil pengelolaan wakaf produktif.
-
Kesejahteraan Mahasiswa: Para penuntut ilmu yang datang dari berbagai penjuru Afrika dan Eropa diberikan tempat tinggal (asrama) dan tunjangan makanan yang berasal dari dana wakaf.
-
Lembaga Pengelola (Jam’iyat al-Awqaf): Pada abad ke-19, dibentuk organisasi khusus untuk mengelola aset-aset wakaf Al-Zaytuna guna memastikan pemeliharaan bangunan dan keberlanjutan pendidikan tetap terjaga.
Ini adalah teladan sempurna bagi kita hari ini. Wakaf uang yang Anda salurkan melalui wakafmulia.org memiliki potensi untuk menciptakan dampak yang serupa: membangun sarana pendidikan dan dakwah yang manfaatnya tidak terputus hingga hari kiamat.
V. Dari Mihrab Shalat Menuju Universitas Global
Evolusi Al-Zaytuna dari tempat ibadah menjadi universitas terjadi secara organik. Awalnya, ulama memberikan pengajaran dalam bentuk lingkaran-lingkaran kecil (halaqat) di dalam masjid. Seiring bertambahnya jumlah siswa, kurikulum pun berkembang.
Tidak hanya mengajarkan Fiqih, Tafsir, dan Hadits, Al-Zaytuna juga menjadi pusat pengajaran:
-
Kedokteran
-
Astronomi
-
Filsafat
-
Matematika
-
Sastra dan Bahasa Arab
Selama masa penjajahan Perancis, Universitas Al-Zaytuna menjadi benteng terakhir yang menjaga identitas nasional dan budaya Islam Tunisia dari upaya asimilasi Barat. Institusi ini membuktikan bahwa pendidikan Islam adalah instrumen perjuangan kemerdekaan yang paling ampuh.
![]()
VI. Para Raksasa Al-Zaytuna: Alumni yang Mengubah Dunia
Al-Zaytuna bukan sekadar gedung; ia adalah rahim yang melahirkan pemikir besar. Berikut adalah beberapa alumni yang jejak pemikirannya masih kita pelajari hingga hari ini:
-
Ibn Khaldun (W. 1406 M): Bapak Sosiologi dunia dan sejarawan besar. Ia tumbuh dan besar di lingkungan Al-Zaytuna, mempelajari dasar-dasar ilmu agama dan filsafat sebelum menulis mahakaryanya, Muqaddimah.
-
Muhammad al-Tahir bin Ashur: Seorang ulama pembaharu yang terkenal dengan kitabnya Maqasid al-Shari’ah. Beliau adalah salah satu Syekh Al-Zaytuna yang paling gigih memperjuangkan modernisasi pendidikan Islam tanpa meninggalkan akar tradisi.
-
Abdul Hamid bin Badis: Pelopor gerakan reformasi di Aljazair. Beliau menimba ilmu di Al-Zaytuna dan kemudian pulang ke negerinya untuk melawan penjajahan melalui pendidikan.
-
Abu al-Qasim al-Shabbi: Penyair legendaris Tunisia. Puisinya yang berjudul “Ila al-Tughat” (Kepada Sang Diktator) dan lirik dalam lagu kebangsaan Tunisia adalah buah dari sensitivitas intelektual yang diasah di Al-Zaytuna.
VII. Kesimpulan: Kebangkitan Modern dan Panggilan untuk Kita
Setelah sempat mengalami masa-masa sulit dan pembatasan fungsi pendidikan pada pertengahan abad ke-20, cahaya Al-Zaytuna kembali benderang. Pada Mei 2012, pasca revolusi Tunisia, peran universitas ini dikembalikan untuk mengawasi pendidikan syariah secara resmi.
Pesan untuk kita semua:
Al-Zaytuna adalah bukti sejarah yang tak terbantahkan bahwa ketika umat Islam berinvestasi melalui wakaf untuk pendidikan, hasilnya bukan hanya bangunan fisik, melainkan peradaban yang berumur ribuan tahun.
Di Indonesia, Wakaf Mulia Institute hadir untuk mengajak Anda mengikuti jejak para dermawan masa lalu. Melalui wakafmulia.org, Anda dapat berpartisipasi dalam program wakaf uang untuk membangun pesantren, sekolah, dan pusat literasi Islam. Ingatlah, harta yang kita makan akan habis, harta yang kita simpan akan jadi warisan, namun harta yang kita wakafkan akan menjadi milik kita yang sejati di akhirat kelak.
Mari jadikan diri kita bagian dari rantai kebaikan ini. Salurkan wakaf terbaik Anda sekarang melalui wakafmulia.org dan biarkan manfaatnya mengalir abadi, seperti air yang menghidupkan pohon zaitun di Tunis.
Sumber Referensi:
Diterjemahkan dan diadaptasi dari artikel Al Jazeera: “جامع الزيتونة من محراب صلاة إلى جامعة للعلماء” (Masjid Al-Zaytuna: Dari Mihrab Shalat Menuju Universitas bagi Para Ulama), dipublikasikan pada 7 September 2025. Link Sumber Al Jazeera



